Jumat, 09 Januari 2009

Zionisme, Nasionalisme, dan Israel





Kata "zionisme" bagi orang Islam seperti sebuah simulacra yang menakutkan,
padahal bagi masyarakat Yahudi (Israel), kata itu biasa dan netral-netral
saja. Menyebut "zionisme" bagi orang-orang Israel sama entengnya kita
menyebut "nasionalisme. " Zionisme adalah padanan yang persis untuk kata
"nasionalisme" bagi perjuangan bangsa Israel. Tanpa Zionisme, Israel modern
tak akan pernah ada. Zionisme-lah atau Gerakan Nasionalisme Yahudi, negara
Israel modern bisa berdiri.

Zionisme berasal dari kata "Zion," sebuah idealisasi tempat di Yerussalem
(al-Quds). Kamus2 besar mengartikan Zion sebagai al-Quds atau Yerusalem.
Dalam tingkat tertentu, kata Zionisme bisa dipersandingkan dengan "Negara
Madinah" atau "Negara Islam" atau pada gerakan-gerakan baru semacam "al-Quds
Squad" atau "al-Quds Brigades" yang didirikan kaum Muslim Palestina (biasa
dikenal dengan nama "al-harakat al-jihad al-Islami"). Hamas adalah sebentuk
"zionisme" Islam, karena memproyeksikan Yerusalem sebagai negara/kota ideal
buat mereka.

Dalam perkembangannya, Zionisme diadopsi secara resmi oleh negara Israel
sebagai salah satu sendi Eretz Yesrael (atau dalam bahasa Arab disebut "Ardh
Israil"). Seperti kita mengakui "persatuan Indonesia" atau "kebangsaan"
dalam Pancasila, orang2 Israel meyakini Zionisme dalam "pancasila" (kalau
tidak salah trisila) mereka.

Saya suka bingung kalau ada orang mengecam Zionisme dengan berbagai stigma.
Bagi orang2 Israel, Zionisme adalah modal penting untuk berdirinya negara
itu, sama seperti kita meneriakkan nasionalisme ketika mengusir penjajah
Belanda dulu. Bahwa dalam perjuangan kemerdekaan orang-orang seperti
Tjokroaminoto, Syahrir, Tan Malaka, dicap sebagai "teroris" oleh
pemerintahan kolonial, itu persis seperti orang-orang Arab menganggap
Menachem Begin, Yitzak Shamir, Yitzak Rabin, sebagai "teroris." Tapi, bagi
bangsa Israel, sama seperti kita menganggap tokoh-tokoh nasional kita,
mereka adalah para pahlawan.

Karena Zionisme sebagai konsep sama persis dengan Nasionalisme, maka dalam
perkembangan selanjutnya kita pun melihat ada aneka ragam manusia di
dalamnya: ada yang sekuler, liberal, fundamentalis, radikal, dan
konservatif. Tidak ada yang aneh jika seorang serdadu Israel memegang Taurat
di kanannya dan senjata otomatis di tangan kirinya. Ini adalah sejenis
"Zionisme Radikal" atau "Zionisme Konservatif" sama seperti para tentara
Hezbullah yang sering mengacungkan al-Quran dan Senjata ke langit Lebanon.

Zionisme yang sekular tidak kalah banyaknya. Bahkan, kelompok inilah yang
sesungguhnya menguasai Israel. Kadang, orang-orang Zionis sekular berpikiran
lurus, kadang, karena tekanan politik, mereka menggunakanagama untuk
mencapai target kekuasaan mereka. Tidak ada yang aneh. Ini sama saja dengan
para Bupati atau Caleg sekular (dari Golkar atau PD misalnya) yang mengusung
Perda-Perda Syariah. Politik selalu buruk jika diperalat agama (atau
sebaliknya, sama saja).

Akhirul kalam, dengan mengutuk kebrutalan tentara Israel di Gaza, marilah
kita menjernihkan pikiran, mengendurkan urat syaraf, dan mencari solusi yang
lebih ajek bagi semua.

--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest
>> al-Ra'd [13]: 28

Related Posts by Categories



0 komentar:

Poskan Komentar

"Be A Real Moeslem" © 2008 Template by:
SkinCorner