Sabtu, 20 Desember 2008

Antipemanasan Global


Pada masa lalu, tak banyak yang bisa diceritakan tentang aktivitas
bersepeda. Sebagai moda transportasi, dulu, bersepeda merupakan hal
yang wajar karena belum banyak kendaraan bermotor dan jarak yang
harus ditempuh relatif tak jauh sehingga dari segi waktu pun
bersepeda nyaman saja. Popularitas bersepeda turun seiring
tersedianya transportasi kendaraan bermotor. Kini, bersepeda justru
tampil dengan nilai dan kearifan lain.

Bersepeda tak saja menghadirkan gaya hidup sehat, tetapi juga
menyampaikan pesan prolingkungan. Itu karena bersepeda berkontribusi
pada pengurangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, lebih
jauh, bersepeda itu merespons anjuran untuk menanggulangi pemanasan
global karena aktivitas tanpa BBM berarti tak melepaskan gas rumah
kaca yang menjadi biang utama fenomena pemanasan global.

Alasan yang bersifat praktis, bersepeda lebih lincah dalam menembus
kemacetan lalu lintas di kota-kota besar.

Itulah yang diamati Toto Sugito (45), Ketua Umum Bike to Work (B2W),
komunitas pengguna sepeda ke kantor (atau kegiatan lain).

Landasan aktivitas yang logis dari sejumlah argumen tersebut membuat
anggota komunitas terus bertambah. Kelompok ini pun tak hanya eksis
di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Menurut Toto,
anggota B2W di berbagai kota mencapai 10.000-an.

Bersepeda pada satu sisi lalu tampak sebagai suatu gaya hidup modern.
Di sini juga tersirat niat tulus untuk bersikap baik terhadap Sang Bumi.

Menengok kembali awal B2W, Toto yang untuk kiprahnya mendapat
penghargaan dari Swiss Contact dan "Indonesia Berprestasi" dari XL
ini mengatakan, ide pendirian B2W muncul setelah ia semakin prihatin
dengan kondisi polusi udara, keterbatasan tempat parkir, dan
kemacetan. Toto—sebelumnya ia pencinta sepeda gunung—lalu mencoba
moda transportasi alternatif untuk ke kantor. Jalur Cibubur-Tebet,
Jakarta Selatan, lalu menjadi rute hariannya sejak 2004.

Pada awalnya, sang istri keberatan Toto bersepeda ke kantor karena
alasan polusi udara sangat tinggi. Jalan keluarnya, Toto memakai
masker yang bermutu baik.

Setelah merasakan manfaatnya, Toto kemudian memperkenalkan "bersepeda
ke kantor" tersebut kepada teman-teman dekatnya. Ternyata sambutan
mereka positif. Oleh karena itu pula, tahun 2005 Toto lalu menghimpun
komunitas pekerja bersepeda dalam B2W.

Tidak butuh waktu lama, komunitas ini berkembang menjadi tren baru di
kalangan eksekutif muda. Malah berikutnya, gaya hidup bersepeda ini
meluas pula di kalangan remaja, bahkan juga ke kalangan mereka yang
berusia lanjut.

Keluarga dari sebagian anggota komunitas ini, yang semula sempat
meragukan, kini justru ikut pro terhadap aktivitas bersepeda yang
dipelopori Toto. Kendaraan utama anak pertama dia yang belakangan
kuliah di Bandung juga sepeda. Adapun kedua anak Toto yang lain baru
menggunakan sepeda sebagai alat olahraga.

Penitipan sepeda

Toto memimpikan B2W dapat berkembang menjadi komunitas serupa yang
sukses seperti di Kanada dan banyak negara Eropa, khususnya Belanda.
Di negara-negara itu, meski sarana transportasi bermotor pribadi dan
umum sangat baik, banyak warga yang memilih menggunakan sepeda untuk
menunjang aktivitas sehari-hari mereka.

Di dekat stasiun kereta api, banyak terlihat area parkir sepeda.
Selain pertimbangan kesehatan dan nonpolusi, secara transportasi,
sepeda pun bisa menjadi pengumpan (feeder) bagi aktivitas commuting
(ulang-alik, pergi-pulang, rumah-tempat bekerja yang cukup jauh).

Bukankah peran serupa juga masuk akal bagi busway yang belakangan
dipromosikan di kota-kota besar Indonesia? Tentu saja masih
diperlukan penyediaan fasilitas penitipan sepeda yang bisa
diandalkan, bila hal tersebut hendak dikembangkan di Indonesia. Namun
secara ide, hal itu masuk akal.

Berbicara tentang tolok ukur kesuksesan B2W di Indonesia, hal ini,
menurut Toto, tidak semata bisa dicerminkan oleh banyaknya anggota
komunitas, tetapi juga seberapa jauh bersepeda dapat menjadi gaya
hidup masyarakat Indonesia.

"Artinya, masyarakat kita menjadi sadar betul akan masalah polusi
udara dan hubungannya dengan perubahan iklim, juga bagaimana energi
atau BBM yang ada bisa dihemat untuk generasi selanjutnya, " kata Toto.

Bila kesadaran tersebut telah dipahami masyarakat luas, tentu tidak
akan sulit untuk menambah anggota komunitas bersepeda.

B2W dalam hal ini mengajak masyarakat menggunakan sepeda tidak hanya
sebagai alat olahraga dan/atau rekreasi, tetapi juga sebagai alat
transportasi yang ramah lingkungan sekaligus menyehatkan bangsa.

Dalam posisi ini, sepeda memang tergolong unik karena peran mendukung
mobilitas muncul seiring dengan peran menyehatkan, sekaligus peran
memelihara lingkungan.

Jalur khusus

Toto yang sehari-hari bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan
konsultan arsitektur ini punya cara mudah dalam mengampanyekan
kegiatan bersepeda, yakni melalui 3M.

"3M itu maksudnya: Mulai bersepeda dari diri sendiri, Mulai bersepeda
dari jarak terdekat, dan Mulai bersepeda sekarang juga."

Toto menyadari bahwa aktivitas bersepeda di perkotaan bukannya bebas
dari tantangan. Selain udara penuh debu, banyak kota besar di
Indonesia belum atau tidak punya jalur khusus sepeda. Bahkan, kata
dia, sudah ada pengendara sepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu
lintas karena berbagi jalan dengan kendaraan bermotor besar dan kecil.

Maka, wajarlah kalau salah satu harapan komunitas B2W adalah
tersedianya jalur khusus untuk sepeda.

Jalur yang akan membuat aktivitas bersepeda bisa dilakukan dengan
aman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang ingin bergabung dalam
komunitas ini, tetapi masih meragukan keamanan aktivitas bersepeda.

Di luar tantangan yang ada, Toto yakin, ide bersepeda besar faedahnya
tidak saja bagi individu bersangkutan, tetapi juga untuk masyarakat,
bahkan bagi kelestarian lingkungan Bumi.

Panitia "Indonesia Berprestasi Awards" menilai, apa yang dilakukan
Toto Sugito memiliki kekhasan yang relevan dengan permasalahan yang
tidak saja dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini terkait
dengan lalu lintas perkotaan yang semakin macet dan terkena polusi,
tetapi juga dengan upaya bersama seluruh umat manusia untuk
menanggulangi pemanasan global yang berakibat mengerikan.


.

Related Posts by Categories



0 komentar:

Poskan Komentar

"Be A Real Moeslem" © 2008 Template by:
SkinCorner