Rabu, 31 Desember 2008

Gaza Dibombardir!





Gaza Dibombardir!

HTI-Press. Hari ini Israel
menyerang Gaza, yang didiami 1,5 juta muslim dan membunuh lebih dari 205 warga
dan ratusan lainnya terluka.
Rasulullah saaw
menyatakan,
“Perumpamaan
orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih-sayang dan ikatan emosional ibarat
satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, mengakibatkan seluruh anggota
tidak dapat istirahat dan sakit panas.” [HR.
Bukhari]
Tubuh kaum mukmin
kembali menderita, tidak bisa tidur dan demam ketika Israel melakukan aksi
terornya terhadap muslim Palestina.
Gaza diserang hampir
tiap hari selama bertahun-tahun. Namun, tidak puas hanya dengan membunuh muslim
saja, Israel juga memblokade Gaza dan melarang pemasokan makanan, air, kesehatan
dan bahan bakar untuk kebutuhan penduduk sehari-hari.
Hidup untuk warga
muslim sungguh sengsara bahkan banyak keluarga yang terpaksa harus makan rumput!
Salah satu keluarga tersebut adalah Jindiya Abu Amra dan anak perempuannya yang
berumur 12 tahun, dimana mereka mengais rumput untuk tetap bertahan hidup. “Kami
makan sekali sehari yaitu dengan khobbeizeh,” kata Abu Amra sambil menunjukkan
dedaunan dari semacam tanaman yang tumbuh liar di sepanjang jalan-jalan di Gaza.
“Tiap hari saya bangun dan mulai mencari kayu dan plastik sebagai bahan bakar
dan saya juga mengemis. Kalau tidak mendapat apa-apa, kami makan rumput
ini.”
Israel adalah musuh
umat Islam yang nyata. Kejahatannya terhadap warga muslim Palestina sudah jelas.
Serangan terakhir ini sebenarnya tidak mengejutkan. Tapi yang lebih buruk dari
itu adalah pengkhianatan para penguasa muslim seperti Hosni Mubarak dari Mesir
dan perannya dalam membantu dan mendukung blokade Israel terhadap Gaza dan
pendudukan Palestina.
Tzipi Livni yang
menjabat Menlu Israel sudah terang-terangan mengatakan bahwa Israel telah
mempersiapkan serangan terhadap Gaza. Minggu lalu, ia menyuruh perwakilan Israel
di luar negeri untuk melobi anggota Dewan Keamanan PBB dan negara-negara Eropa
untuk mendukung aksi serangan terhadap Gaza.
Kamis minggu ini
adalah suatu tradisi di mana sebelum serangan besar terhadap muslim dimulai,
Livni pergi menemui Mubarak di Mesir untuk tetap diam, menutup mata, dan tidak
ikut campur dalam serangan Israel. Inilah bukti dukungan Mesir terhadap rencana
Livni.
Editor utama harian
Al-Quds Al-Arabi hari ini mengkritik habis Menlu Mesir Ahmed Aboul
Gheit, yang tidak sedikitpun berani menyatakan sikap keberatan terhadap rencana
Menlu Israel Tzipi Livni dalam mengancam Hamas, dalam kunjungannya ke ibukota
Mesir minggu lalu.
Wahai
Muslim!
Lihatlah betapa
murahnya harga darah kita. Bukankah Rasulullah saaw pernah berkata:
“Darah umat Muslim
lebih berharga dibanding Ka’bah dan sekitarnya.”
Namun hari ini darah
umat kembali tumpah membasahi jalanan Palestina, Iraq dan Afghanistan tanpa
satupun yang bergerak untuk membalasnya. Karena begitu murahnya di Iraq, Amerika
pun secara ringan mengakui untuk berhenti menghitung korban yang
tewas!
Wahai
Muslim!
Kami tahu darah kalian
mendidih dan menderita sekali lagi. Inilah saatnya untuk mengarahkan daya dan
kekuatan untuk bekerja mengganti penguasa boneka dan menunjuk satu pemimpin,
yaitu Khalifah untuk menggantikan mereka. Khalifah adalah
pemimpin, dimana ia adalah pelayan kalian dan bekerja untuk kepentingan kalian
saja. Ia akan hapus tapal batas- tapal batas yang mengkotak-kotak tanah muslim
dan menyatukannya dalam satu negara besar, negara Khilafah. Hanya
dengan itu, blokade laut terhadap Gaza bisa dihentikan, uang sadaqah disalurkan,
dan penduduk Gaza laki-laki, perempuan dan anak-anak bisa terlindungi dari
kebiadaban Israel.
Rasulullah
bersabda,
“Sesungguhnya Imam
adalah perisai, dengan perisai itu Umat berperang dan melindungi
dirinya.” [HR.
Muslim]
Di bawah pimpinan
Khalifah, imam yang menyatukan umat Muslim dunia, pasukan Islam disatukan untuk
menghentikan kekejaman Israel dan membebaskan setiap jengkal tanah Palestina
termasuk Gaza dengan Jihad, seperti yang dilakukan sebelumnya oleh Khalifah
Nur-ad-deen dan panglimanya Salahudin Ayyubi semasa Perang Salib
dulu.
Mesir saat itu berada
dibawah kekuasaan Fatimid yang memisahkan diri dari kekuasaan Khilafah Abbasid.
Perpecahan ini menyebabkan masuknya pasukan Salibi dari Eropa ke wilayah muslim
hingga berhasil menduduki Al Quds dan Al Shaam (Palestina, Lebanon, Jordan,
Syria, dan sebagian Iraq). Akhirnya Panglima Salahudin Ayyubi berhasil
menundukkan Fatimid di Mesir, mengembalikan kesatuan Khilafah, dan kembali
menyatukan pasukan Islam sekali lagi sebelum memusatkan satu kekuatan militer
dalam membebaskan Al Shaam dan Al Quds dari pendudukan dan pengaruh pasukan
Salib.

لبَّيْكَ اللَّهُمَّ
وَمَلايِينٌ تَنْتَظِرُ تَلْبِيَةَ النِّداءِ وَلَمْ يَمْنَعْها مِنَ التَّلْبِيَةِ
الْمالُ وَالْوَلَدُ بَلْ مَنَعَهُمْ حُدُودٌ وَحَواجِزٌ وَصَدُّ طُغاةٍ جَبابِرَةٍ
تَحَكَّمُواْ بِالرِّقابِ وَالْعِبادِ .
Ya Allah! Kami siap
mengabdi untuk-Mu, dan jutaan telah siap memenuhi panggilan jihad di jalanMu.
Bukan dana maupun pemuda yang menjadi penghalang kami, namun perbatasan dan
rintangan penguasa Taghut yang memasung kami. (Abdul Kareem,
Khilafah.Com)

Related Posts by Categories



0 komentar:

Poskan Komentar

"Be A Real Moeslem" © 2008 Template by:
SkinCorner