Sabtu, 20 Desember 2008

Teguran Untuk Amalan Sunah



Teguran Untuk Amalan Sunah Yang Diabaikan

Assalaamu'alaikum

Wajar jika ada seseorang yang menegur saudaranya karena saudaranya itu
melalaikan sebuah kewajiban. Tapi, bagaimana dengan orang yang menegur
saudaranya karena saudaranya itu melalaikan sesuatu yang hukumnya sunah?
Saya pernah mendengar orang yang lumayan berilmu mengatakan bahwa tidak
sepantasnya kita meributkan saudara kita yang malas mengerjakan amalan
nawaafil. Itu keterlaluan, sebab sunah itu jika tidak dikerjakan tidak
apa-apa!

Terus terang, saya tidak sepakat dengan pendapat tadi. Tidak selamanya
sesuatu yang sunah itu tidak apa-apa jika tidak dikerjakan. Ada sunah yang
dibenci oleh rasulullaah saw jika ditinggalkan oleh para shohabat.
Rasulullaah saw juga pernah marah karena ada orang yang menyepelekan sebuah
amalan sunah tertentu. Beliau juga sering menegur para shohabat jika ada
yang melalaikan ibadah sunah tertentu. Apakah orang tadi mengira bahwa
rasulullaah saw telah keterlaluan? Wah.. wah! Jika rasulullaah saw dianggap
keterlaluan, lantas siapa yang dia teladani?

Bukankah rasulullaah saw pernah marah kepada Ali (ra) karena malas
menunaikan sholat malam? Bukankah beliau saat khutbah jumat pernah menegur
seorang shohabat yang tidak sholat tahiyatul masjid? Bukankah beliau pernah
marah besar kepada orang-orang yang tidak mau memenuhi panggilan adzan
seraya mengancam mereka dengan pembakaran? Bukankah beliau pernah memanggil
dan menegur dua orang yang tidak ikut sholat shubuh secara berjama'ah? dan
masih banyak lagi! Nah, inilah rasulullaah saw. Apakah kita menganggap
kemarahan dan teguran beliau tersebut sebagai tindakan yang keterlaluan?
Saya mencoba berpendapat, dalam hal sunah muakad, maka sebaiknya kaum
muslimin saling memotivasi dan mengingatkan. Dan dalam hal ini, tidak
masalah untuk saling menegur. Sebab, sunah muakad adalah sunah yang
sebaiknya dikerjakan, dan tidak pantas jika ditinggalkan.

Jujur, saya membayangkan jika bisa hidup bersama rasulullaah saw. Dalam hati
saya bertanya "hidup bersama rasulullaah saw itu menyenangkan atau tidak
ya?". Jika ketahuan tertinggal sholat berjama'ah dan melalaikan sholat malam
akan mendapat kemarahan rasulullaah saw, pasti hidup bersama beliau akan
berat. Makanya, mengaku cinta kepada beliau itu harus membayangkan
bagaimana jika bertemu dengan beliau. Kalau kita termasuk orang yang malas,
pasti hidup bersama rasulullaah saw justru "tersiksa", karena setiap ketemu
dengan beliau justru akan kena teguran. Eits..! tapi jangan sekali-kali
mengatakan: "untung saja kita tidak hidup bersama rasulullaah saw". Mukmin
macam mana yang mau berkata seperti itu? So, Kita harus selalu introspeksi,
agar kita bisa bertemu dengan rasulullaah saw. wassalaamu 'alaikum

Sumber : Darul Muhaajiriin. http://titok. wordpress. com/2007/ 05/

Related Posts by Categories



0 komentar:

Poskan Komentar

"Be A Real Moeslem" © 2008 Template by:
SkinCorner